sponsor

Select Menu

Favourite

Berita

Budaya

Berita Utama

Popular

✕

Kategori Berita

Comments

Advertisement

Berita Pilihan

Newsletter

Hi There, I am

SLIDE1

Bupati Simalungun

Pematang Raya

Pematang Siantar

Pendidikan

Politik

Kaos Simalungun

VIDEO


  
MEDAN - Dosen Etnomusikologi USU Sapna Ria Sitopu dan anaknya, Ocha, memohon dukungan warga Sumut dalam program televisi pencarian bakat Mama Mia.
"Ini kesempatan yang sudah lama saya tunggu. Mama Mia kan sudah ada lima tahun lalu. Tapi waktu itu anak saya masih kecil," katanya saat dihubungi Tribun Medan, Selasa (7/10/2014).
Sapna yang masuk dalam kloter lima program ini berhasil melewati tahap kedua, dan Jumat nanti (10/10/2014) akan mengikuti tahap ketiga untuk mengamankan posisi dua besar. Babak final ajang ini nantinya akan diikuti oleh dua pasang kontestan perwakilan tujuh kloter.
Pengajar vokal di Yoppie Music Studio ini mengatakan, motivasi para peserta Mama Mia beragam.
"Ada yang ingin terkenal dan ada yang ingin mendapatkan hadiah uangnya. Motivasi utama saya adalah ingin mengangkat kembali seni tradisi Simalungun di tingkat nasional," katanya.
Saat beraksi pekan lalu, Iis Dahlia yang menjadi juri dalam ajang ini meminta dirinya beradu dengan seorang kontestan lain yang punya dasar menyinden. Tantangan ini pun diselesaikannya dengan baik dengan menampilkan teknik vokal inggou yang memiliki kemiripan dengan cengkok pesinden.
Sapna mengaku sengaja menyebut dirinya sebagai sinden simalungun. Ini merupakan strategi branding bagi dirinya sebagai duta seni tradisional simalungun.
Untuk memperluas pendengar seni tradisional yang ia usung, Sapna yang belajar menyanyi dari orangtuanya yang memiliki orkes tradisional ini akan memasukan unsur musik modern.
"Tapi, saya tidak mau kasih tahu konsep yang akan kaki bawakan. Biarlah jadi surprise," ujarnya.
Anaknya, Rosalina Samosir atau akrab dipanggil Ocha, adalah langganan juara lomba menyanyi. Setidaknya, sudah ada 70 piala lomba yang telah dikoleksi siswa SMK 11 Medan ini. Keduanya saat ini akan lehih banyak berada di Jakarya untuk mengikuti berbagai macam latihan dan persiapan. Grand final diperkirakan berlangsung Januari 2015.
Dukungan untuk Mama Sapna dan Ocha dapat diberikan dengan mengirimkan pesan singkat MAMAMIA OCHA ke 7288.
Simalungun, Sumut ( Berita ) : Kepolisian Resor Simalungun, Sumatera Utara, menangkap sindikat pencurian kendaraan bermotor di jalan lintas Sumatera kawasan Desa Perlanaan Perdagangan Kabupaten Simalungun. “Enam lelaki diduga sebagai pelaku pencurian, kami amankan,” kata Kapolres Simalungun AKBP Andi Syahriful Taufik SH SiK saat pemaparan kasus di Pamatang Raya, Selasa [07/10].
Pengungkapan pencurian mobil antarprovinsi ini kata Kapolres, berawal dari laporan masyarakat dan informan polisi yang akan menjual mobil jenis Avanza dari Rantauprapat ke arah Tanjung Gusta Medan. Petugas Reskrim Polres Simalungun menyamar sebagai pembeli dan meminta pelaku datang ke Simalungun. Pelaku datang bersama sindikatnya dari Dumai, Provinsi Riau .
Di tempat kejadian perkara, Kasat Reskrim AKP Wilson Pasaribu dan anggota meringkus ke enamnya di salah satu rumah makan di Perlanaan. Ke enam terduga dibawa ke Mapolres Simalungun di Pamatang Raya berikut dengan dua unit mobil Avanza.
Dari hasil pengembangan kasus, para terduga pelaku pencurian mobil ini melakukan aksinya di wilayah Rantauprapat, dan tidak ada di Simalungun. "Kami akan serahkan ke enam terduga ke Polres Labuhan Batu berikut dua barang bukti tersebut," tandas Kapolres.
Ke enam tersangka itu adalah Bambang Irwansyah (34 tahun) warga Pematangsiantar, Putra (24 tahun) warga Kota Pinang, Dani Sahputra (32 tahun) warga Cikampak Labusel , Salim (39 tahun) Warga Rantauprapat, Andre Ilham (19 tahun) Warga Cikampak Labusel, dan Hafiz (21 tahun) Warga Dumai. Dani Sahputra mengaku mobil yang akan dijual ke Tanjung Gusta, Medan itu hasil curian dari Langga Payung milik seorang wartawan di Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun. (ant )

SAPNA ARIA SITOPU
Penyanyi etnik simalungun, pendidik dan pengajar vokal
Penulis : Sultan Saragih, bekerja di kajian budaya Rayantara
Bekal kemampuan menyanyi secara otodidak bersama keluarga yang hidup berkesenian sebagai parlata lata (orkes tradisional) serta pembelajar vokal di Sekolah Menengah Musik Medan, membuat ia memiliki teknik pondasi bernyanyi yang kuat. Sapna Sitopu mampu mengimbangi permainan improvisasi Jazz Bill Saragih, guru sekaligus sahabat ketika berada di Jakarta.
“Tidak semua penyanyi mampu mengikuti permainan Jazz, karena ia harus sanggup memproduksi nada nada improvisasi sesuai pergeseran irama Jazz. Penyanyi tersebut akan frustasi bila teknik vokalnya tidak memadai atau tidak bisa sampai pada putaran nada yang diberikan pemain Jazz” tegasnya ketika berbicara dengan penulis dalam sebuah wawancara pekan lalu.
Sejak kapan belajar menyanyi ?
Aku lahir 10 April 1971 di Pakaloban, keluarga kami pindah ke desa Pagar manik, Kec. Silindak – Bangun Purba, Kab. Serdang Bedagai. Ayah, Sabar Sitopu selain bertani juga pemimpin orkes musik tradisional simalungun yang selalu mendapat permintaan tampil untuk berbagai acara panggung, pesta pernikahan maupun adat kematian. Orkes musik tersebut dalam bahasa daerah dipanggil dengan parlata lata, terdiri dari pemain gitar, gonrang, drum modifikasi dan krincingan tanpa keyboard.
Aku mulai menyanyi sejak berusia 4 tahun dengan cara martakap baba (lisan) dari ibu, Lina boru Purba Pak Pak. Sejak kecil, hampir setiap hari aku selalu mendengar ibu menyanyikan lagu tradisional simalungun sambil mengasuh kami, ketika bekerja di ladang, atau memasak di dapur, perjalanan ke pasar hingga mengikuti show berbagai daerah. Amboru (saudara perempuan ayah) juga penyanyi parlata lata, cukup mendengar dua tiga kali, sebuah lagu langsung bisa kubawakan, sudah hapal melodi nya. Lalu, aku menjadi penyanyi parlata lata mulai duduk di bangku sekolah dasar hingga SMP. Lagu yang kunyanyikan pada waktu itu, taur taur simbandar, lagu Bolon, Misir Ma Ham Botou, Deideng Bittang, Deideng apuy ni par sini silou, Odak odak dan lagu rakyat simalungun lainnya yang sarat dengan inggou (cengkok khas simalungun). Terampil di atas panggung, aku meraih juara pada berbagai perlombaan tarik suara tingkat sekolah.
Setia Dermawan Purba, teman ayah, melihat bakat lalu memberi saran agar Sapna melanjutkan sekolah musik. Aku mendaftar dan melanjutkan studi di Sekolah Menengah Musik Medan Jl. Perintis Kemerdekaan, jurusan vocal. Bertemu dengan Juliana Hutagalung, guru sekolah yang menggembleng bagaimana memperdalam teknik vokal secara mendasar, belajar teknik pernapasan, cara memproduksi suara, membuat notasi balok, menyanyikan lagu seriosa, keroncong, lagu klasik barat seperti klasik jerman hingga klasik itali.
Di luar lingkungan sekolah, Sapna ikut belajar menyanyi dengan Tante Vera yang memandu program siaran anak anak di TVRI serta lomba bintang Radio RRI. Aku belajar sikap bagaimana memilki keberanian dan proses menjadi seorang entertainer yang kuat.
Keempat fase ini lah yang membentuk karakter dan kekuatanku sekarang, sejak penyanyi otodidak masa kanak kanak dengan keluarga, belajar dari Juliana Hutagalung di Sekolah Menengah Musik, Tante Vera dengan lingkungan TVRI dan RRI, hingga belajar improvisasi Jazz bersama Bill Saragih.
Tapi karena bawaan dan karakter dasar memiliki inggou (cengkok khas simalungun), lagu jazz yang kutampilkan tak luput dari improvisasi inggou sehingga menjadi berbeda dengan penyanyi jazz lain. Penyanyi etnik simalungun, itu lah ciri khas dan jati diri ku.
Pernah menjadi juara lomba ?
Pada masa itu lah, aku meraih juara dua Lomba Seriosa TVRI – RRI tingkat Sumatera Utara, juara 1 lomba Lagu Pop PRSU, juara 1 lomba lagu Karo se Sumatera Utara dan berbagai lomba lainnya. Jika dihitung, ada 94 piala yang dapat dikumpulkan sekarang. Tapi karena pola hidup ku tinggal dan berpindah kost selalu, hampir semua piala tidak terurus dengan baik. Aku mulai masuk dapur rekaman, diawali duet dengan Lamser Girsang dalam album “Horas bani Himapsi” tahun 1988. Selanjutnya banyak berdatangan pihak lain untuk membuat album bersama.
Apa pengalaman pahit selama menyanyi ?
Semasa hidup sekolah dulu, Ibu kost pernah mengusir aku karena memiliki kebiasaan menyanyi sambil teriak pagi pagi untuk latihan vokal. Ternyata tetangga tidak suka semua, mereka mengadu, aku dibilang ribut tiap jam lima pagi, teriak teriak sehingga mengganggu kenyamanan mereka tidur. Keesokan harinya, tiba tiba semua pakaian dan tas sudah keluar dari kamar. Iya, pindahlah kau dari sini, kata ibu kost. Lalu aku menangis ke gereja, mengadu, langkah baik pengelola gereja memberi tempat di sana, agar aku bisa teriak teriak menyanyi setiap pagi. Kebiasaan menyanyi kapan saja dan dimana saja sebenarnya sudah ada sejak kecil, kulakukan sambil memanjat pohon, menyanyi entah lagu apa saja. Di sawah sambil mengusir burung aku terus menyanyi, kadang dianggap orang gila. Padahal, tabiat ku tak bisa diam, terkadang juga seperti menyanyi begitu saja tidak sadar.
Apakah bisa hidup sejahtera dari penyanyi ?
Tidak, pasar dan ekonomi tidak berpihak, kalau penyanyi simalungun mau mengharapkan penghasilan dari menyanyi di atas panggung dan penjualan kaset album, takkan pernah bisa beli rumah, kendaraan, bahkan membiayai kebutuhan hidup sehari hari pun sulit.
Aku dapat menutupi kebutuhan hidup sehari hari dari bisnis, bukan dari menyanyi. Belajar dari teman yang berprofesi sebagai pengusaha hotel, akhirnya aku memulai bisnis kost kost an, membuka usaha di pasar pringgan, kantin, sekaligus mengajar vocal di sekolah musik. Pendeknya, kita harus bikin cadangan untuk menyiasati ekonomi sekaligus mampu menghasilkan karya terus menerus.
Sapna Aria Sitopu kini menjadi staf pengajar di etnomusikologi USU, khusus vocal. Ia melanjutkan studi Strata Dua (S2) berkaitan dengan upaya penyelamatan seni tradisi, nyanyian simalungun yang sudah banyak dilupakan orang seperti taur taur, tangis tangis, urdo urdo, tihtah (nyanyian anak senda gurau), mang mang (mantra), inggou turi turian (cerita rakyat dengan bernyanyi), nyanyian panen padi dan ragam jenis lainnya. Tidak hanya dikenal sebagai penyanyi etnik simalungun, ia adalah seorang pendidik dan pengajar.
Kotak Band Hibur Ribuan Pengunjung


Pesta Danau Toba (PDT) di Tanoh Habonaron Do Bona Kabupaten Simalungun tahun 2014 yang berlangsung sejak tanggak 18 s/d 20 September 2014 di Open Stage kota Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, oleh Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM secara resmi ditutup, Sabtu malam 20/09/2014.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan seperti lomba mengukir (manguhir), lomba marjalekkat, pertandingan margalah, festival vocal solo, festival tari kreasi daerah, pertandingan volley pantai, festival gonrang keyboard, lomba memancing, lomba  fotography, lomba renang dewasa, lomba renang anak-anak, lomba solu parsada-sadaan (perorangan) dan lomba solu pardua-duaan.

Selama digelarnya pelaksanaan PDT di Kabupaten Simalungun  juga di adakan eksebisi terbang layang, eksebisi sepeda gunung dan eksebisi tour Harley Davidson, eksebisi tour "X Trail", eksibisi Jet Sky, drag race sepeda air, drag rice speed boat, drag race scooter, pagelaran malam pesona budaya multi etnis/nusantara, malam pesona budaya Simalungun.
Selain itu, setiap malam untuk memeriahkan PDT, yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah juga ditampilkan artis-artis papan atas seperti Marsada Band, Naff Band, Kotak Band dan artis-artis Ibukota lainnya ditambah artis pendukung dari Kabupaten Simalungun. Semua jadwal kegiatan yang telah direncanakan berjalan dengan tertib, aman dan lancar.

Seperti Kotak Band pada malam penutupan PDT tersebut melalui vocalisnya Tantri mendapat apresiasi yang tinggi dari ribuan fansnya yang  memadati pelataran Open Stage. Semua maniak Kotak Band bernyanyi, berjoget bersama iringan musik dan lalu-lagu yang dibawakan oleh vocalis Kotak Band. Termasuk Bupati Simalungun dan keluarga serta para Farum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan para pimpinan SKPD dijajaran Pemkab Simalungun yang hadir dalam penutupan PDT, terlihat menikmati hiburan yang di tampilkan oleh Kotak Band sampai acara selesai.

Disela-sela penampilannya, Tantri meminta kepada para fansnya terutama masyarakat Kota Parapat untuk sama-sama menjaga dan melestarikan Danau Toba sebagai asset Indonesia dan Dunia. Bahkan dirinya sangat mengagumi keindahan Danau Toba. "Saya sangat kagum dengan Danau Toba karena saya selama ini hanya dapat melihat Danau Toba memelui media televisi,"ujarnya.

Sementara itu, Bupati Simalungun saat menutup PDT tersebut mengatakan bahwa Pemkab Simalungun akan tetap melaksanakan PDT setiap tahunnya, hal tersebut bertujuan untuk melestarikan kebudayaan yang telah dilaksanakan oleh para orang-orang tua terdahulu. Selain itu Bupati menyampaikan bahwa pelaksanaan PDT juga untuk meningkatkan arus kunjungan wisata di Kota Parapat. Bupati juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan untuk menyukseskan dan memeriahkan pelaksanaan PDT.

Sebelumnya panitia telah memberikan hadian dan penghargaan kepada para pemenang perlombaan. Tampak hadir dalam kesempatan itu, Danrindam I BB, Danrem 022 PT, Dandim 0207 Simalungun, Danyonif 122 TS, mewakili Kapolres Simalungun, Anggota DPP RI Parlindunagn Purba, Anggota DPRD Simalungun, para pejabat di jajaran Kabupaten Simalungun dan perwakilan dari Kabupaten Batu Bara.  
Lima Fraksi di DPRD Simalunggun menyetujui atas Rancangan Peraturan (Ranperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Simalungun Tahun Anggaran (TA) 2015 melalui pendapat akhir masing-masing fraksi.

Persetujuan kelima fraksi tersebut disampaikan dalam sidang paripurna DPRD Simalungun yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD, Binton Tindaon SPd didampingi para wakil-wakil Ketua yakni Ir Julius Silalahi, Ojak Naibaho SH, Burhanuddin Sinaga, Senin 22/09/2014.

Kelima fraksi-fraksi tersebut yakni Fraksi Golkar Nusantara melalui juru bicaranya Agus Salim SPdI MM, Fraksi PDI Perjuangan melalui juru bicaranya Abu Sofyan Siregar, Fraksi Demokrat Bersatu melalui juru bicaranya Dra Denni Darmayanti Naibaho, Fraksi Amanat Pembela Habonaron Luhut Sitinjak dan Fraksi Bersatu melalui juru bicaranya Drs Jonliman Pane.

Selanjutnya persetujuan Renperda APBD Kabupaten Simalungun TA 2015 juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun dan DPRD Simalungun tentang persetujuan DPRD Simalungun atas Ranperda APBD Kabupaten Simalungun TA 2015 oleh Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM dan Ketua DPRD Binton Tindaon bersama wakil-wakil ketua.

R-APBD Kabupaten Simalungun TA 2015 yakni pendapatan sebesar Rp. 2.119.420.865.422,-, belanja sebesar Rp. 2.109.777.304.486,-. Untuk pembiayaan terdiri dari penerimaan pembiayaan sebesar Rp. 1.000.000.000,-, pengeluaran pembiayaan sebesar Rp. 10.643.560.936,-, Jumlah pembiayaan netto sebesar Rp. 9.643.560.936,- dan sisa lebih perhitungan anggaran Rp. 0,-. Belanja tidak langsung sebesar Rp. 1.338.924.422.221,- dan belanja langsung sebesar Rp. 771.052.882.265,-.

Ketua DPRD Simalungun Binton Tindao SPd, saat menutut rapat paripurna tersebut menghimbau kepada jajaran eksekutif agar benar-benar memperhatikan serta menindaklanjuti hal-hal yang telah disampaikan oleh dewan, baik hasil rapat masing-masing komisi, badan anggaran, panitia khusus dan dari masing-masing fraksi.

Disamping itu, ketua DPRD juga mengharapkan agar Ranperda tersebut segera disampaikan kepada Gubsu untuk dievalusi sehingga berbagai kegiatan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan dan anggota dewan atas waktu yang diberikan dalam pembahasan Ranperda APBD Kabupaten Simalungun TA 2015 sekaligus memberikan persetujuan melalui pendapat akhir fraksi-fraksi.

Selanjutnya, Bupati mengatakan bahwa, Ranperda APBD Kabupaten Simalungun TA 2015 yang telah mendapat persetujuan akan disampaikan kepada Gubernur Sumatera Utara untuk dievaluasi agar ditetapkan menjadi Peraturan Dearah (Perda) dan diundangakan untuk pemberlakuannya.
Ratusan massa yang mengatasnamakan LSM Lembaga Aspirasi Seruan Peduli Rakyat (Lasser) Siantar Simalungun akan melakukan demonstrasi ke kantor Bupati dan DPRD Simalungun menuntut pemerintah segera mengembalikan fungsi Hutan Register 18/SM yang sudah dialihfungsikan menjadi tanaman sawit.

Ketua DPP LSM Lasser Siantar Simalungun Mara Salem Harahap, Senin (29/9) mengatakan, pihaknya akan melakukan demonstrasi dengan ratusan masyarakat dengan mendatangi kantor Bupati dan DPRD Simalungun.

“Demonstrasi kali ini merupakan lanjutan dari aksi beberapa waktu lalu. Kita menuntut agar hutan Register 18/SM yang sudah ditanami sawit oleh pengusaha agar segera ditertibkan dan dikembalikan fungsinya sebagai kawasan hutan bukan perkebunan sawit,” ujarnya.

Lanjutnya, ada 6 ribu hektare lahan hutan register 18 di Kabupaten Simalungun (Kecamatan Hutabayu Raja, Ujung Padang dan Bosar Maligas) dirambah. Kini lahan tersebut dijadikan perkebunan sawit oleh sejumlah pengusaha.

Masih kata Salem, dari 6 ribu Ha kawasan hutan di tiga kecamatan tersebut, sebanyak 2.840 Ha terdapat di Kecamatan Hutabayu Raja. Lahan tersebut diusahai beberapa pengusaha. Antara lain; UD M (460 Ha), DS (100 Ha), CV RK (25 Ha) dan LT (100 Ha). Saat ini lahan di kawasan hutan register 18 tersebut tidak ada lagi ditemukan lahan tanaman hutan berkayu. Bahkan di lahan kemiringan 90 derajat, pengusaha menanami sawit.

“Kita berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat segera mengambil tindakan dan melakukan penertiban serta pengembalian fungsi hutan,” jelasnya.

Kasat Intel Polres Simalungun AKP Elisa Sibuea mengatakan, pihaknya sudah menerima surat pemberitahuan tentang rencana demonstrasi tersebut. “Surat pemberitahuannya sudah disampaikan dan diminta agar aksinya juga berjalan dengan damai,” ujarnya. (rah/des)

SUMBER METRO SIANTAR