sponsor

Select Menu

Favourite

Berita

Budaya

Berita Utama

Popular

Kategori Berita

Comments

Advertisement

Berita Pilihan

Newsletter

Hi There, I am

SLIDE1

Bupati Simalungun

Pematang Raya

Pematang Siantar

Pendidikan

Politik

Kaos Simalungun

VIDEO



Bupati Simalungun Dr JR. Saragih, SH, MM menghadiri undangan Rapat Koordinasi Pemprov. Sumatera Utara dengan Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK-RI) dari Gubernur Sumatera Utara H. Tengku Erry Nuradi, M.Si Dalam rangka membangun tata kelola keuangan daerah yang baik dan transparan. Selasa (6/12/2016) di Aula Martabe, Kantor Gubernur Sumut.

Dalam sambutannya, Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi menyampaikan bahwa Rapat Koordinasi dengan BPK RI ini dalam rangka menunjang reformasi laporan keuangan di tingkat daerah. Rapat Koordinasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan mekanisme dan peran serta pengelolaan keuangan negara yang bekerja dengan transparansi dan penuh akuntabilitas.

Gubernur juga berharap di tahun 2017 nanti, hasil pemeriksaan LHP Kabupaten/Kota se-Sumut yang mendapatkan WTP (wajar tanpa Pengecualian) akan bertambah. "Hasil pemeriksaan LHP tahun 2016, pada tahun 2017, kabupaten/kota dan provinsi yang sudah mendapatkan penilaian WTP bisa mempertahankannya dan yang belum akan bertambah. Dengan kegiatan ini akan terus menambah semangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan laporan penyelenggaraan pemerintah daerah akan semakin baik," ujar Gubernur.

Bupati Simalungun, usai mengikuti rakor dengan BPK RI menyampaikan, bahwa apa yang disampaikan dalam Rakor dengan BPK RI adalah memberikan motivasi kepada seluruh kepala daerah di Sumatera Utara agar bisa lebih memperbaiki kinerja.  Bupati juga mengatakan bahwa permasalahan aset menjadi salah satu point penting yang menjadi permasalahan di setiap daerah dan sudah menjadi permasalahan klasik. “Tadi sudah dijelaskan, bahwasannya audit boleh saja dilakukan semisal tahun 2017, kemudian hasil auditnya bisa dilaporkan pada tahun 2018," ujar Bupati.

Bupati juga menilai bahwa banyak bantuan operasional dari pusat yang  dihibahkan seperti mobil pemadam kebakaran, ambulance dan lainnya yang sudah lama dan sudah rusak kemudian dipertanyakan kembali oleh BPK RI, akan tetapi benda dan surat pendukung benda tersebut sudah tidak ada lagi. 

Untuk itu Bupati meminta agar atas kasus- kasus  seperti itu tidak lantas menjadikan kepala daerah atau Pemda dalam membuat laporan ditolak atau disclaimer. "rakor hari ini sebenarnya memberikan arahan dan keyakinan kepada seluruh kepala daerah agar dapat memetakan bahwa ini adalah aset dari pusat dan diserahkan kepada daerah cuma suratnya belum datang," terang Bupati.

Pada tingkatan di daerahnya, Bupati juga mencontohkan, bahwa anggaran yang diperuntukkan bagi tiap desa senilai Rp 1 miliar. Secara tanggung jawab, pengguna anggaran tersebut adalah desa dan bukan Pemda, Sebab dana tersebut sudah langsung dihibahkan ke desa. Oleh karena itu Bupati berharap agar  laporan pemda tidak dicampur adukkan dengan laporan dana desa tersebut.

"Sebagaimana diketahui, bahwa tidak semua desa penerima hibah tersebut dapat mengelola keuangan dengan baik. Jangan karena dana desa tersebut laporan kita kena disclaimer. Untuk itu, biarkan audit dana desa itu menjadi wewenang BPK langsung dengan desa. Kalau kita (pemda) turut campur justru akan salah."
“tadi juga disebutkan ada batasan, tiga bulan setelah tutup buku wajib menyerahkan laporan keuangan, itu paling lambat. Kalau kita menunggu laporan dari desa, bisa sampai enam bulan baru selesai. Sekarang kita lanjutkan saja, biarlah mereka belakangan kalau semisalkan ada desa yang bermasalah, biar mereka yang bertanggung jawab dan bukan pemda yang bertanggung jawab," tutup Bupati.




Bermula dari keprihatinan akan susahnya alat angkutan barang hasil pertanian dari ladang menuju ke rumahnya, memicu kreatifitas seorang anak muda dari Kecamatan Purba menciptakan sebuah mobil yang bermesin sepeda motor. Walau Secara bentuk, mobil ini belumlah sempurna seperti mobil dari Asemka, namun  ide kreatif untuk membuat mobil mini patut di apresiasi.

Adalah Kartolo Purba, seorang pemuda dari Nagori Huta Raja Kecamatan Purba yang berhasil merakit sebuah mobil bermesin sepeda motor. Hasil kreasinya inipun dipamerkan pada hari ini Sabtu (3/12/2016) di event Pesta Hiburan Rakyat Parsaranan Na Bujur di Rest Area Kec. Purba dan mendapat sinyal positif dari Bupati Simalungun, Dr JR. Saragih. SH,MM.

Bupati Simalungun, memberikan apresiasi dan rasa salutnya atas kreativitas yang dimiliki Kartolo Purba. Memang masih banyak yang harus disempurnakan seperti sistem transmisi, bentuk, hingga posisi mesin dan lampu dari kendaraan tersebut.


Namun Bupati menyampaikan bahwa yang patut diapresiasi adalah kreativitasnya. Dari mesin sepeda motor bekas, mampu dimodifikasi menyerupai mobil. Untuk itu, Bupati pun berharap mobil kreasi dari pemuda  Simalungun ini mampu dimanfaatkan dan dimaksimalkan untuk kepentingan masyarakat.

Bupati juga menyampaikan bahwa para pemuda di Simalungun hendaknya mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Kartolo Purba ini. Dengan semangat dan kreatifitas untuk berbuat dan berkarya yang terbaik akan menjauhkan para pemuda dari hal – hal negatif yang merugikan. 


Guna memperbaiki dan memodifikasi bentuk kendaraan tersebut agar lebih bagus dan fungsional, Bupati pada kesempatan itu memberikan bantuan dana pembinaan karya terbaik sebesar Rp 10 juta. "Donasi tersebut untuk meyempurnakan perbaikan ide kreatif si pencipta mobil ini. Saya akan pantau dan lihat lagi perkembangan modifikasi setelah ini," ujar Bupati.

Dijelaskan oleh Kartolo Purba, proses modifikasi mobil mini membutuhkan waktu sekitar dua bulan dan menghabiskan biaya Rp 3.3 juta. Mobil mini ini dulu (awal pembuatan) menggunakan mesin kendaraan cup tahun 1970. Setelah baknya keropos terinspirasilah membuat becak.

Setelah becak ciptaannya sudah tidak lagi mampu mengangkut beban, dibuatlah kendaraan empat roda seperti ini. "Sekarang, mobil mini ini menggunakan mesin dari motor Honda Kharisma 125 CC dengan transmisi manual yang digerakan oleh rantai. Kemudian untuk rodanya menggunakan ban Vespa," tutup Kartolo.

PSMS Medan mengakui belum menerima hadiah Rp 1,5 miliar sebagai juara Piala Kemerdekaan 2015. Meski demikian, mereka tak mau terlalu mempermasalahkan saat ini karena masih menikmati euforia juara setelah menundukkan Persinga Ngawi 2-1 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (13/9).
Manajer PSMS Medan, Andry Mahyar, mengakui soal uang match fee dan hadiah, memang tak bisa diselesaikan dalam waktu dekat.
“Mereka menjanjikan dalam waktu dua minggu akan selesai. Dan, kami masih yakin Tim Transisi bisa menyelesaikan semua,” katanya, saat dihubungi, Selasa (15/9).
Saat didesak untuk memberikan evaluasi terhadap Piala Kemerdekaan Mahyar dia hanya meminta agar kemasan promosi dan keprofesionalan tim Transisi bisa diperbaiki. Sebab, masih terlihat ada kekurangan di sana-sini dalam pelaksanaan turnamen resmi pemerintah tersebut.
“Kami tunggu saja, mudah-mudahan mereka bisa lebih profesional,” tuturnya. (dkk/jpnn)
SIANTAR – Lahirnya Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada 14 April 1947 di Kota Pematangsiantar merupakan bagian sejarah nasional Indonesia, bukan sejarah lokal.
Terbentuknya Sumut, mementahkan opini Belanda dalam forum internasional yang menyebutkan, pemerintahan RI sudah tidak ada lagi, apalagi, Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera sudah diduduki Belanda saat itu setelah Jakarta dan Yogyakarta.
Meski tokoh-tokoh Indonesia seperti Soekarno, Syahrir, Agus Salim dan lain-lain ditawan Belanda, Mr SM Amin yang dilantik oleh T Mohd Hasan (Gubernur Sumatera) sebagai Gubernur Muda Sumut, tetap eksis menjalankan roda pemerintahan dari Pematangsiantar.
Namun karena Belanda melancarkan Agresi Militer pada 29 Juli 1974 dan menduduki Siantar, SM Amin akhirnya pindah ke Kutaraja, Aceh untuk mengatur strategi pemerintahan. Wilayah Sumut sendiri ketika dibentuk terdiri dari keresidenan Sumatera Timur, Tapanuli dan Aceh.
Penegasan ini disampaikan tiga narasumber pada Seminar Hari Jadi Provinsi Sumut, Senin (20/5) di Aula FKIP USI Jalan Sisingamangaraja Barat, yakni Dr phil Ichwan Azhari (Ketua PUSSIS-UNIMED), Dr Suprayitno MHum (Ketua Prodi Magister Ilmu Sejarah USU-Medan) dan Muhammad TWH (Legiun Veteran RI-Medan).
Seminar dipandu moderator Drs Ulung Napitu MSi. Kegiatan seminar ini merupakan rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang juga diperingati di seluruh Indonesia.
Dalam seminar yang dibuka Walikota Siantar Hulman Sitorus SE melalui Sekda Drs Donver Panggabean MSi ini, mengemuka gagasan tentang dijadikannya tanggal pelantikan Mr SM Amin sebagai Gubernur Muda Sumut pada 14 April 1947 sebagai hari jadi Provinsi Sumut.
Pelantikan SM Amin ini merupakan tindak lanjut dari rapat Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera (DPS) di Bukit Tinggi pada 16 April 1946.  Selama ini, peringatan Hari Jadi Provinsi Sumut adalah  15 April 1948 yang diambil dari tanggal ditetapkannya undang-undang tentang sistem pemerintahan yang dilanjutkan dengan pelantikan Mr SM Amin sebagai Gubernur Sumut oleh Presiden Soekarno pada 19 Juni 1948.
“Tetapi perlu diingat, Provinsi Sumut sudah lebih dulu ada ketimbang undang-undang tersebut. Sehingga, pelantikan pertama SM Amin sebagai Gubernur Muda di Pematangsiantar 14 April 1947, dirasa lebih tepat dibuat sebagai hari jadi Sumut,” tegas Ichwan Azhari.
Dalam forum diskusi, diusulkan agar nama SM Amin sebagai Gubernur pertama Sumut yang dilantik di Pematangsiantar ini, diabadikan menjadi naman jalan, atau nama gedung tertentu, sehingga menjadi momentum sejarah, bahwa di Pematangsiantarlah pertama sekali Provinsi Sumut dilahirkan.
Peserta seminar tampaknya juga sangat mengapresiasi usulan yang mengemuka dalam seminar ini.  “Kami akan berusaha merespon hasil seminar ini, manakala nantinya dibutuhkan rekomendasi DPRD dalam legitimasinya,”ujar Rudolf Hutabarat, anggota DPRD Siantar saat memberi pendapat.
Sebelumnya, Sekda Donver Panggabean saat memberi sambutan, juga telah memberikan apresiasi jika akhirnya seminar mengusulkan pembuatan momentum sejarah lahirnya Provinsi Sumut di Kota Pematangsiantar.
Dalam rangka itulah, menurut Rektor USI, Drs Hisarma Saragih M Hum, pihaknya bersama dengan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan, menggelar seminar lahirnya Provinsi Sumut ini di FKIP USI.
Tujuannya adalah, dalam rangka mengungkap peran Kota Pematangsiantar sebagai ibukota sementara Sumut pada tahun 1947, sekaligus untuk mengungkap proses lahirnya Provinsi Sumut di Pematangsiantar pada 14 April 1947, sekaligus peran Mr SM Amin sebagai Gubernur Sumut pertama dalam menjalankan pemerintahan dari Pematangsiantar sampai dia ditangkap Belanda.
“Sekaligus juga kita akan mengusulkan kepada Gubernur dan DPRD Sumut, agar hari jadi provinsi Sumut ditinjau kembali, berdasarkan fakta-fakta yang ada,” kata Rektor USI.
Kegiatan seminar ini akan dirangkaikan dengan pameran foto-foto perjuangan masa lalu, tentang awal terbentuknya Provinsi Sumut.
Dalam seminar yang juga dihadiri langsung putri almarhum Mr SM Amin ini, juga terungkap berbagai kontribusi Kota Pematangsiantar sebagai kota perjuangan dalam mempertahankan NKRI selama kurun waktu 1945-1947. (rel/mer)

SUMBER : METRO SIANTAR
SIANTAR – Dalam rapat pleno rekapitulasi hasil pilgubsu di KPU Kota Siantar dan Kabupaten Simalungun pasangan Efendi Simbolon dan Djumiran Abdi (ESJA) unggul jauh. Di Siantar ESJA unggul  41,78 persen atau 37.437 suara dan di Simalungun ESJA juga unggul dengan perolehan 32,24 persen atau 102.380 suara.
Sementara pasangan Gatot Pujo Nugroho dan Tengku (GanTeng) di Siantar memeroleh suara terbanyak dua 20,35 persen atau 18.429 suara dari 90.560 surat suara pemilih yang sah. Demikian terungkap dalam rapat pleno KPU Siantar di Aula KPU, Selasa (12/6) kemarin.
Hadir dalam kesempatan tersebut, mewakili Uspida Siantar, Rudol Hutabarat dan Rudi Wu mewakili DPRD, Djumadi Sitanggang Asisten I, AKP Kimar Samosir mewaliki Kapolres dan Ketua Panwas Siantar Darwan Saragih. Selain itu masing-masing calon juga menghadirkan saksinya.
Agus Umri Siregar saksi pasangan Gusman, Amri Simanjuntak dan Benny Sibarani saksi pasangan ESJA, Ardianto saksi pasanan Chairuman, Elly Rajaguk-guk dan M Efendi saksi pasangan Amri Tambunan dan Muslim Manurung dan Franedi ST saksi pasanan GanTeng). Masing-masing PPK dari setiap kecamatan memaparkan hasil perhitungan suara.
Pantauan METRO, Kecamatan Siantar Selatan diikuti 7.239 pemilih dari 11.970 daftar pemilih tetap (DPT), yang masuk suara sah 7.343 dan suara tidak sah 145, dari 36 TPS yang ada di kecamatan tersebut. Unggul di sana pasangan ESJA dengan 4.516 suara, Amri 1.375 suara, Gusman 847 suara, GanTeng 411 suara dan pasangan Chairutman 195 suara.
Kecamatan Sitalasari jumlah pemilih 10.460 dari 22.933 DPT. Suara sah 10.343 dengan 60 TPS. Unggul di sana pasangan ESJA 3.783 suara, GanTeng 2.695 suara, Gusman 1.756 suara, Amri 1.404 suara dan Chairutman 705 suara.
Kecamatan Siantar Martoba, 14.404 pemilih dari 29.567 DPT. Surat suara sah 14.115 di 71 TPS. Unggul pasangan ESJA 4.882 suara, GanTeng 4.083 suara, Amri 2.064 suara, Gusman 2.002 suara dan Chairutman 1.084 suara.
Kecamatan Siantar Timur sebanyak 10.877 pemilih dari 13.638 pemilih. Unggul di sana pasangan ESJA 7.199 suara, Amri 2.2251 suara, Gusman 1.854 suara, GanTeng 1.705 suara dan Chairutman 513 suara.
Kecamatan Siantar Utara, 16.709 pemilih dari 39.905 DPT. Surat suara sah 16.299 di 93 TPS. Unggul juga pasangan Efendi 6.579 suara, GanTeng 3.090, Gusman 2.883 suara, Amri 2.585 suara dan Chairutman 1.162 suara.
Kecamatan Siantar Marihat, 7.975 pemilih dari 15.623 DPT. Surat suara sah 7.841 dengan 43 TPS. Unggul pasangan ESJA 4.456 suara, Amri 1.531 suara, Gusman 946 suara, GanTeng 579 suara dan Chairutman 329 suara.
Kecamatan Siantar Simarimbun, 6.343 suara dari 11.327 DPT. Unggul kembali pasangan ESJA 3.872 suara, Amri 1.277 suara, Gusman 677 suara, GanTeng 346 suara dan Chairutman 171 suara. Kecamatan Siantar Barat dengan 15.105 pemilih dari 32.631 DPT. Suara yang sah 17.526 suara dari 73 TPS.
Dari 8 Kecamatan se Kota Pematangsiantar, GanTeng hanya unggul di Kecamatan Siantar barat dengan 5.520 suara. Kemudian diikuti pasangan calon Gusman 4.203 suara, ESJA 2.550 suara, Amri 1.533 suara dan Chairutman 9.488 suara.
Batara Manurung komisioner KPU Siantar memaparkan secara global, untuk Siantar yang menggunakan hak suaranya sebanyak 50.679 pemilih dari 188.461 DPT. Yang tidak memilih 96.555 orang. Surat suara ke seluruh TPS sebanyak 193.322 surat suara dan yang dipergunakan 92.706 surat suara. Yang keliru atau dicoblos rusak sebanyak 89 kertas suara.
Total surat suara yang sah 90.560 dengan 469 TPS.  Perolehan suara tetapnya unggul pasangan ESJA 37.837 suara atau 41,78 persen. Kemudian pasangan GanTeng 18.429 suara atau 20,35 persen, Gusman 15.168 atau 16,75 persen, Amri 14.019 suara dengan 15,48 persen dan Chairutman 5.104 suara atau 5,64 persen.
Di Simalungun Effendi 32,24 Persen
Dalam hasil Pleno KPU Simalungun saat Rekapitulasi hasil Pilgubsu, pasangan Effendi Simbolon dengan nomor 2 memperoleh suara 102.380 suara atau 32,24 persen. Disusul pasangan Gatot Pujo Nugroho nomor 5 hasil suara yang diperoleh 94.074 suara 29,62 persen.
Kemudian pasangan Gus Irawan nomor 1 mendapat 51643 suara 16,26 pedsen selanjutnya pasangan Amri Tambunan nomor 4 hasil 40.051 suara atau 12,61 persen dan pasangan Chairul nomor 5 dengan suara 29.378 atau 9,25 persen.
Sementara itu, total suara tidak sah sebanyak 7.734 dan suara sah 317.526. Pleno yang dihadiri oleh Uspida, Panwas Simalungun, PPK, serta para saksi calon dilaksaksanakan mulai pukul 10.00 WIB di kantor KPU Simalungun, Jalan Asahan.
Sebelum diplenokan, KPU terlebih dahulu merekapitulasi hasil suara per kecamatan dari 31 kecamatan se-Simalungun. Selama proses rekapitulasi berjalan dengan baik tanpa ada perbedaan hasil suara yang diperoleh oleh KPU, Panwas atapun saksi.
Ketua KPU Simalungun Nurdin Sinaga menerangkan, tahapan Pilgubsu berjalan dengan baik. Seluruh daerah di Simalungun tidak ada yang mengalami hambatan saat proses pemilihan berlangsung. Harapannya ke depan pilkada lainnya tetap berjalan baik.
Dikatakan, usai pleno di kabupaten, maka hasilnya akan langsung dibawa ke KPU provinsi. (pra/osi)

SUMBER : METRO SIANTAR