sponsor

Select Menu

Favourite

Berita

Budaya

Berita Utama

Popular

Kategori Berita

Comments

Advertisement

Berita Pilihan

Newsletter

Hi There, I am

SLIDE1

Bupati Simalungun

Pematang Raya

Pematang Siantar

Pendidikan

Politik

Kaos Simalungun

VIDEO


4 Tahun Pimpin Siantar
Empat tahun memimpin Siantar, Hulman penuh kontroversi. Rapornya dinilai merah, tapi ia juga banyak menorehkan prestasi.
SIANTAR, JAM 12.30 WIB
Sejak dilantik menjadi Walikota Siantar pada 23 September 2010, rapor pemerintahan Hulman Sitorus boleh dibilang merah. Pasalnya, selama 4 tahun pemerintahannya, Hulman terlalu banyak membiarkan adanya pelanggaran terhadap peraturan.
Hal itu diungkapkan anggota Fraksi NasDem DPRD Kota Siantar, Frengki Boy Saragih, saat diminta penilaiannya terkait genapnya 4 tahun masa pemerintahan Hulman, Selasa (23/9) sekira jam 12.30 wib. “Yang pertama, tak jelas pembagian tugas dengan wakilnya, sehingga tidak jelas andil Koni di dalam pemerintahan. Hulman merangkap semuanya. Salut kepada Hulman yang mampu menjalankannya sendirian. Jadi kalo Hulman mencalonkan lagi sebaiknya tak usahlah pakai wakil,” tukasnya seraya melempar senyum.
Yang kedua, lanjut Frengki, capaian PAD selama pemerintahan Hulman hanya bisa berkontribusi untuk belanja daerah, itu dibawah 10 persen dari total belanja. Dalam hal penempatan dan pengangkatan pimpinan SKPD, tambah Frengki, Hulman juga tidak memfungsikan Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkat (Baperjakat).
“Selain itu, maraknya pembiaran terhadap pelanggaran peraturan, seperti penggunaan ruang terbuka hijau dan ruas jalan hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya, termasuk trotoar,” tuturnya merinci. Frengki menambahkan, banyaknya infrastruktur yang tidak berfungsi, seperti Terminal Tanjung Pinggiran eks Terminal Suka Dame, Pasar Kecamatan di Sitalasari dan Outer Ring Road yang tidak ditindaklanjuti. “Banyaklah nilai merahnya,” tutupnya.
SERING MENGELUH
Sementara, Koordinator Center For Research Of Public Budgeting (Cerpub), Rindu Marpaung menegaskan, visi dan misi yang tertuang di Perda Nomor 8 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2010-2015, yaitu terwujudnya Kota Siantar Mantap, Maju Dan Jaya, juga belum dapat dibuktikan. “Apanya yang mantap, apanya yang maju dan apanya pula yang jaya. Nilai rapornya merah,” ujar Rindu seraya menambahkan bahwa keberhasilan ataupun kegagalan kepala daerah hanya dapat dinilai dari laporan kinerja dan laporan keuangan.
“Dia sering mengeluh akan bobroknya kinerja SKPD dalam pelayanan publik, serta rasio belanja langsung dan belanja tidak langsung yang tidak sebanding, namun upaya perbaikan tak kunjung dilakukan,” cecarnya. RPJMD, kata Rindu, memprioritaskan empat sektor yaitu sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perdagangan dan pariwisata. “Indikator ke empat sektor itu belum kunjung dapat dibuktikan, khususnya dalam bidang pendidikan dan kesehatan yang merupakan hak-hak dasar publik,” sambungnya.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) setiap tahun serta menentukan tema pembangunan, menurut Rindu, acapkali tidak sinkron. “Tidak jelas, apa priotitas pembangunan setiap tahunnya, sehingga pelaksanaannya asal jadi, yang penting anggarannya tersedia. Apa yang patut dan wajar kita banggakan akan pelayanan pendididikan dan kesehatan,” tegas Rindu.
Penilaian kinerja pada sektor publik, lanjut Rindu, dapat dilihat dari bentuk finansial, produktivitas, kualitas, pelayanan, inovasi dan personalia. Ke-6 hal itu, menurutnya, belum dapat meyakinkan masyarakat akan adanya perubahan yang dijanjikan.
“Contoh sederhana, Standar Pelayanan Minimal (SPM) tak pernah diketahui masyarakat, padahal itu mutlak disajikan,” ketus mantan Staf Ahli Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Siantar itu.  Dalam hal pengelolaan angggaran, tambah Rindu, sesuai dengan LHP BPK RI yang dipublis setiap tahunnya, banyak ditemukan permasalahan yang krusial dan berpotensi terjadi korupsi serta penyalahgunaan wewenang.
Sebagai bukti, terbitnya surat edaran tentang tata cara penyelesaian pekerjaan pada akhir tahun, belum taatnya SKPD dalam hal pengelolaan anggaran dan pencatatan jumlah asset daerah yang rawan masalah. “Meskipun opini Wajar Dengan Pengeculiaian (WDP) diperoleh setiap tahunnya, hal itu membuktikan bahwa laporan kinerja keuangan masih bermasalah dan tidak bebas dari korupsi. Hampir setiap tahun APBD mengalami defisit dan uniknya terdapat Silpa (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) yang jumlahnya sangat fantastis. Ini mencerminkan lemahnya manajemen keuangan,” bebernya.
Masih kata Rindu, dalam hal bentuk perlindungan kepada masyarakat, khususnya kepada kaum miskin kota sebagai tanggungjawab kepala daerah, tak kunjung dirasakan masyarakat. “Buktinya, saat ini toko modern menjamur hingga berdampak buruk terhadap pelaku usaha kecil dan pedagang kaki lima,” ketusnya.
Kebijakan lain yang mendapat penolakan dari masyarakat, sebut Rindu, adalah kenaikan tarif air minum, pendirian perusahaan daerah tanpa melibatkan partisipasi dari masyarakat dan adanya penjelasan. “Rentetan permasalahan tersebut menjadikan nilai merah bagi kepemimpinan Hulman. Dia (Hulman) baik, tapi kurang bermanfaat bagi orang banyak. Celaka itu, kinerja yang buruk dijawab dengan perasaaan,” tukas Rindu.
Celakanya, Hulman mencak-mencak saat dikritik. Padahal seorang pemimpin harus siap dikritik dan berdialog dengan rakyat. “Aneh, kalau seorang pemimpin marah dikritik, apalagi tak mau berdialog” ucap Rindu. Namun demikian, menurut Rindu, masih ada ruang bagi Hulman untuk memperbaiki dan mengevaluasi kinerja, khususnya kinerja SKPD yang telah didelegasikan untuk mewujudkan pelayanan publik.
Usia pemerintahannya yang tinggal satu tahun, kata Rindu, akan jadi momentum bagi masyarakat Siantar untuk menilai secara menyeluruh, apakah kepemimpinan Hulman masih layak didukung atau tidak. “Jadi, tolong dibuktikan, kinerja atau prestasi apa yang telah terwujud,” pinta Rindu yang menilai bahwa laporan Tim Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Walikota, tidak mencerminkan keadaan dan fakta di lapangan. “Asal bapak senang, itulah yang dilaporkan, tidak ada evaluasi dan refleksi, apakah program berjalan atau tidak,” tandasnya. (Napit)

sumber : metro 24 jam

Demo Tolak Tarif Air Ricuh
SIANTAR, JAM 16.00 WIB
Aksi demo menolak kenaikan tarif air berlangsung ricuh. Dua orang diamankan karena berusaha menyerang Walikota Siantar Hulman Sitorus SE.
Peristiwa itu berawal ketika petugas Satpol PP baru saja mengikuti apel yang dipimpin Kakan Satpol Kota Siantar, Drs Julham Situmorang. Tiba-tiba datang informasi bahwa sekelompok massa berunjukrasa di depan kantor wali kota. Mendapat informasi itu para petugas Satpol PP langsung bergegas menuju lokasi dan di sana sudah terlihat jika massa tengah melakukan orasi dan berteriak-teriak untuk meminta Walikota segera menemui mereka.
Untuk mencegah agar massa tak masuk ke kantor Walikota, Satpol PP membentangkan tali tambang dan memberi penjelasan agar massa tidak bertindak anarkis. Namun hal itu tak dihiraukan. Bahkan massa semakin beringas dan anarkis. Meski begitu, petugas Satpol yang menggunakan tameng dan tongkat tetap berusaha memberikan imbauan dan penjelasan, namun hal itu tetap tak dihiraukan.
Dengan berbagai pertimbangan dan resiko yang akan terjadi, akhirnya Walikota bersedia menemui para pendemo di bawa pengawalan ketat petugas Satpol PP. Walikota berusaha memberikan penjelasan tentang alasan kenaikan tarif air minum, namun massa tetap tidak terima sehingga  bentrokan pun tak terelakkan.
Gawatnya, ketika walikota kembali berusaha memberikan penjelasan kepada massa, tiba-tiba salah seorang muncul dari kerumunan massa dan berusaha menikam walikota. Namun oknum pendemo tersebut berhasil dilumpuhkan dan diamankan.  Lagi-lagi, Walikota yang saat itu masih berhadapan dengan massa kembali diserang salah seorang pendemo yang berhasil menyelinap. Untungnya walikota bisa diselamatkan petugas yang kemudian mengamankan oknum pendemo tersebut.
Melihat massa semakin anarkis dan tak terkendali, petugas Satpol PP yang menggunakan tameng dan tongkat berupaya memecah konsentrasi massa sekaligus membubarkannya secara paksa. Bersamaan dengan itu walikota pun diamankan ke kantornya.  Setelah massa berhasil dibubarkan dan situasi kembali normal, kedua oknum pendemo yang berusaha menyerang dan menikam Walikota dibawa ke kantor polisi untuk menjalani proses hukum.
BINA MENTAL
Demikian simulasi pengamanan demo yang diperagakan Satpol PP Kota Siantar di lapangan Sub Den 2 Brimob, Sabtu (4/10) yang dimulai sekira jam 16.00 wib. Simulasi sekaligus sebagai penutup upacara Pelatihan Dasar Bina Mental petugas Satpol PP tahun 2014, yang dilaksanakan selama seminggu di Markas Sub Den 2 Brimob Pematangsiantar.
Simulasi itu disaksikan Asisten I Pemko Siantar, Lenardo Simanjuntak, Kadis Kebersihan, Robert Samosir dan Kakan Satpol-PP, Drs Julham Situmorang. Sementara massa pendemo diperankan oleh belasan personil Brimob dan beberapa anggota Satpol PP berpakaian preman sedangkan  Walikota diperankan oleh seorang perwira Brimob.
Sebelumnya, dalam upacara penutupan Pelatihan Dasar Bina Mental yang diikuti 25 petugas Satpol sejak 29 September sampai 4 Oktober, Kasubden 2B, AKP Hari Purnomo SH MH yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, menegaskan bahwa materi pelatihan dapat diserap dengan baik oleh para peserta. “Meski waktunya hanya seminggu, 80 persen materi dapat diserap dengan baik dan tak seorang pun yang mengalami cedera saat pelatihan. Namun sebagian peserta belum dapat menyesuaikan diri akibat minimnya waktu pelatihan dan faktor usia,” tutur Hari.
“Ke depan kita berharap, pelatihan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan guna menciptakan sosok Satpol PP yang tangguh dan profesional dalam melaksanakan tugas sebagai penegak Perda (Peraturan Daerah),” ucapnya. Dikatakan Hari, materi pelatihan yang diajarkan kepada para peserta antara lain baris-berbaris, Dalmas, Beladiri, Pioner, Perundang-undangan, Bahaya Narkoba dan pengenalan bom.
“Sebagai polisi internal dalam pemerintahan, Satpol PP juga harus menguasai HAM (Hak Azasi Manusia), agar dalam melakukan penindakan tidak melanggar HAM,” sambungnya.  Hari berharap, ke depan waktu pelatihan bisa ditambah menjadi dua minggu atau sebulan. “Kiranya pelatihan ini bisa ditambah waktunya, minimum 2 minggu atau sebulan. Kalo seminggu, besok sudah lupa begitu jalan-jalan bersama istrinya,” ujarnya.(Napit)

sumber : metro 24jam

MedanBisnis - Simalungun. Dalam rangka peningkatan pendataan dan penataan serta penilaian aset milik pemerintah, Pemerintah Kabupaten (PemkabSimalungun mengirimkan stafnya untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) properti dasar.
Diklat tersebut dilaksanakan atas kerjasama Pemkab Simalungun dengan kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kekayaan Negara dan Perimbangan Kuangan, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan Replublik Indonesia (RI) di Jakarta.

Staf Pemkab Simalungun berjumlah 30 orang, terdiri dari berbagai disiplin ilmu akan mengikuti diklat properti dasar selama lebih kurang satu bulan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kekekayaan Negara dan Perimbangan Kuangan Jakarta.

Kepala Pusdiklat Keuangan Negara dan Perimbangan Kuangan, Badiklat Keuangan Kementrian Keuangan Kementrian Keuangan RI, Dr Lalu Hendry Yujan SE.Ak MM CBA, Senin (29/9) mengatakan, tujuan dilaksanakannya kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan di setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan laporan keuangan pemerintah kabupaten serta mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pemanfaatan asset.

Bupati Dr JR Saragih SH MM dalam sambutannya mengatakan, sejak berdirinya Simalungun dan hingga saat ini, aset pemkab tidak dapat dinilai dengan baik. Oleh karena itu melalui diklat ini nantinya Pemkab Simalungun memiliki tenaga-tenaga yang mampu menata dan menilai asset dengan baik.

Dirinya juga mengharapkan peserta dapat mengikuti Diklat ini dengan sungguh-sungguh. (samsudin harahap)

  
MEDAN - Dosen Etnomusikologi USU Sapna Ria Sitopu dan anaknya, Ocha, memohon dukungan warga Sumut dalam program televisi pencarian bakat Mama Mia.
"Ini kesempatan yang sudah lama saya tunggu. Mama Mia kan sudah ada lima tahun lalu. Tapi waktu itu anak saya masih kecil," katanya saat dihubungi Tribun Medan, Selasa (7/10/2014).
Sapna yang masuk dalam kloter lima program ini berhasil melewati tahap kedua, dan Jumat nanti (10/10/2014) akan mengikuti tahap ketiga untuk mengamankan posisi dua besar. Babak final ajang ini nantinya akan diikuti oleh dua pasang kontestan perwakilan tujuh kloter.
Pengajar vokal di Yoppie Music Studio ini mengatakan, motivasi para peserta Mama Mia beragam.
"Ada yang ingin terkenal dan ada yang ingin mendapatkan hadiah uangnya. Motivasi utama saya adalah ingin mengangkat kembali seni tradisi Simalungun di tingkat nasional," katanya.
Saat beraksi pekan lalu, Iis Dahlia yang menjadi juri dalam ajang ini meminta dirinya beradu dengan seorang kontestan lain yang punya dasar menyinden. Tantangan ini pun diselesaikannya dengan baik dengan menampilkan teknik vokal inggou yang memiliki kemiripan dengan cengkok pesinden.
Sapna mengaku sengaja menyebut dirinya sebagai sinden simalungun. Ini merupakan strategi branding bagi dirinya sebagai duta seni tradisional simalungun.
Untuk memperluas pendengar seni tradisional yang ia usung, Sapna yang belajar menyanyi dari orangtuanya yang memiliki orkes tradisional ini akan memasukan unsur musik modern.
"Tapi, saya tidak mau kasih tahu konsep yang akan kaki bawakan. Biarlah jadi surprise," ujarnya.
Anaknya, Rosalina Samosir atau akrab dipanggil Ocha, adalah langganan juara lomba menyanyi. Setidaknya, sudah ada 70 piala lomba yang telah dikoleksi siswa SMK 11 Medan ini. Keduanya saat ini akan lehih banyak berada di Jakarya untuk mengikuti berbagai macam latihan dan persiapan. Grand final diperkirakan berlangsung Januari 2015.
Dukungan untuk Mama Sapna dan Ocha dapat diberikan dengan mengirimkan pesan singkat MAMAMIA OCHA ke 7288.
Simalungun, Sumut ( Berita ) : Kepolisian Resor Simalungun, Sumatera Utara, menangkap sindikat pencurian kendaraan bermotor di jalan lintas Sumatera kawasan Desa Perlanaan Perdagangan Kabupaten Simalungun. “Enam lelaki diduga sebagai pelaku pencurian, kami amankan,” kata Kapolres Simalungun AKBP Andi Syahriful Taufik SH SiK saat pemaparan kasus di Pamatang Raya, Selasa [07/10].
Pengungkapan pencurian mobil antarprovinsi ini kata Kapolres, berawal dari laporan masyarakat dan informan polisi yang akan menjual mobil jenis Avanza dari Rantauprapat ke arah Tanjung Gusta Medan. Petugas Reskrim Polres Simalungun menyamar sebagai pembeli dan meminta pelaku datang ke Simalungun. Pelaku datang bersama sindikatnya dari Dumai, Provinsi Riau .
Di tempat kejadian perkara, Kasat Reskrim AKP Wilson Pasaribu dan anggota meringkus ke enamnya di salah satu rumah makan di Perlanaan. Ke enam terduga dibawa ke Mapolres Simalungun di Pamatang Raya berikut dengan dua unit mobil Avanza.
Dari hasil pengembangan kasus, para terduga pelaku pencurian mobil ini melakukan aksinya di wilayah Rantauprapat, dan tidak ada di Simalungun. "Kami akan serahkan ke enam terduga ke Polres Labuhan Batu berikut dua barang bukti tersebut," tandas Kapolres.
Ke enam tersangka itu adalah Bambang Irwansyah (34 tahun) warga Pematangsiantar, Putra (24 tahun) warga Kota Pinang, Dani Sahputra (32 tahun) warga Cikampak Labusel , Salim (39 tahun) Warga Rantauprapat, Andre Ilham (19 tahun) Warga Cikampak Labusel, dan Hafiz (21 tahun) Warga Dumai. Dani Sahputra mengaku mobil yang akan dijual ke Tanjung Gusta, Medan itu hasil curian dari Langga Payung milik seorang wartawan di Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun. (ant )

SAPNA ARIA SITOPU
Penyanyi etnik simalungun, pendidik dan pengajar vokal
Penulis : Sultan Saragih, bekerja di kajian budaya Rayantara
Bekal kemampuan menyanyi secara otodidak bersama keluarga yang hidup berkesenian sebagai parlata lata (orkes tradisional) serta pembelajar vokal di Sekolah Menengah Musik Medan, membuat ia memiliki teknik pondasi bernyanyi yang kuat. Sapna Sitopu mampu mengimbangi permainan improvisasi Jazz Bill Saragih, guru sekaligus sahabat ketika berada di Jakarta.
“Tidak semua penyanyi mampu mengikuti permainan Jazz, karena ia harus sanggup memproduksi nada nada improvisasi sesuai pergeseran irama Jazz. Penyanyi tersebut akan frustasi bila teknik vokalnya tidak memadai atau tidak bisa sampai pada putaran nada yang diberikan pemain Jazz” tegasnya ketika berbicara dengan penulis dalam sebuah wawancara pekan lalu.
Sejak kapan belajar menyanyi ?
Aku lahir 10 April 1971 di Pakaloban, keluarga kami pindah ke desa Pagar manik, Kec. Silindak – Bangun Purba, Kab. Serdang Bedagai. Ayah, Sabar Sitopu selain bertani juga pemimpin orkes musik tradisional simalungun yang selalu mendapat permintaan tampil untuk berbagai acara panggung, pesta pernikahan maupun adat kematian. Orkes musik tersebut dalam bahasa daerah dipanggil dengan parlata lata, terdiri dari pemain gitar, gonrang, drum modifikasi dan krincingan tanpa keyboard.
Aku mulai menyanyi sejak berusia 4 tahun dengan cara martakap baba (lisan) dari ibu, Lina boru Purba Pak Pak. Sejak kecil, hampir setiap hari aku selalu mendengar ibu menyanyikan lagu tradisional simalungun sambil mengasuh kami, ketika bekerja di ladang, atau memasak di dapur, perjalanan ke pasar hingga mengikuti show berbagai daerah. Amboru (saudara perempuan ayah) juga penyanyi parlata lata, cukup mendengar dua tiga kali, sebuah lagu langsung bisa kubawakan, sudah hapal melodi nya. Lalu, aku menjadi penyanyi parlata lata mulai duduk di bangku sekolah dasar hingga SMP. Lagu yang kunyanyikan pada waktu itu, taur taur simbandar, lagu Bolon, Misir Ma Ham Botou, Deideng Bittang, Deideng apuy ni par sini silou, Odak odak dan lagu rakyat simalungun lainnya yang sarat dengan inggou (cengkok khas simalungun). Terampil di atas panggung, aku meraih juara pada berbagai perlombaan tarik suara tingkat sekolah.
Setia Dermawan Purba, teman ayah, melihat bakat lalu memberi saran agar Sapna melanjutkan sekolah musik. Aku mendaftar dan melanjutkan studi di Sekolah Menengah Musik Medan Jl. Perintis Kemerdekaan, jurusan vocal. Bertemu dengan Juliana Hutagalung, guru sekolah yang menggembleng bagaimana memperdalam teknik vokal secara mendasar, belajar teknik pernapasan, cara memproduksi suara, membuat notasi balok, menyanyikan lagu seriosa, keroncong, lagu klasik barat seperti klasik jerman hingga klasik itali.
Di luar lingkungan sekolah, Sapna ikut belajar menyanyi dengan Tante Vera yang memandu program siaran anak anak di TVRI serta lomba bintang Radio RRI. Aku belajar sikap bagaimana memilki keberanian dan proses menjadi seorang entertainer yang kuat.
Keempat fase ini lah yang membentuk karakter dan kekuatanku sekarang, sejak penyanyi otodidak masa kanak kanak dengan keluarga, belajar dari Juliana Hutagalung di Sekolah Menengah Musik, Tante Vera dengan lingkungan TVRI dan RRI, hingga belajar improvisasi Jazz bersama Bill Saragih.
Tapi karena bawaan dan karakter dasar memiliki inggou (cengkok khas simalungun), lagu jazz yang kutampilkan tak luput dari improvisasi inggou sehingga menjadi berbeda dengan penyanyi jazz lain. Penyanyi etnik simalungun, itu lah ciri khas dan jati diri ku.
Pernah menjadi juara lomba ?
Pada masa itu lah, aku meraih juara dua Lomba Seriosa TVRI – RRI tingkat Sumatera Utara, juara 1 lomba Lagu Pop PRSU, juara 1 lomba lagu Karo se Sumatera Utara dan berbagai lomba lainnya. Jika dihitung, ada 94 piala yang dapat dikumpulkan sekarang. Tapi karena pola hidup ku tinggal dan berpindah kost selalu, hampir semua piala tidak terurus dengan baik. Aku mulai masuk dapur rekaman, diawali duet dengan Lamser Girsang dalam album “Horas bani Himapsi” tahun 1988. Selanjutnya banyak berdatangan pihak lain untuk membuat album bersama.
Apa pengalaman pahit selama menyanyi ?
Semasa hidup sekolah dulu, Ibu kost pernah mengusir aku karena memiliki kebiasaan menyanyi sambil teriak pagi pagi untuk latihan vokal. Ternyata tetangga tidak suka semua, mereka mengadu, aku dibilang ribut tiap jam lima pagi, teriak teriak sehingga mengganggu kenyamanan mereka tidur. Keesokan harinya, tiba tiba semua pakaian dan tas sudah keluar dari kamar. Iya, pindahlah kau dari sini, kata ibu kost. Lalu aku menangis ke gereja, mengadu, langkah baik pengelola gereja memberi tempat di sana, agar aku bisa teriak teriak menyanyi setiap pagi. Kebiasaan menyanyi kapan saja dan dimana saja sebenarnya sudah ada sejak kecil, kulakukan sambil memanjat pohon, menyanyi entah lagu apa saja. Di sawah sambil mengusir burung aku terus menyanyi, kadang dianggap orang gila. Padahal, tabiat ku tak bisa diam, terkadang juga seperti menyanyi begitu saja tidak sadar.
Apakah bisa hidup sejahtera dari penyanyi ?
Tidak, pasar dan ekonomi tidak berpihak, kalau penyanyi simalungun mau mengharapkan penghasilan dari menyanyi di atas panggung dan penjualan kaset album, takkan pernah bisa beli rumah, kendaraan, bahkan membiayai kebutuhan hidup sehari hari pun sulit.
Aku dapat menutupi kebutuhan hidup sehari hari dari bisnis, bukan dari menyanyi. Belajar dari teman yang berprofesi sebagai pengusaha hotel, akhirnya aku memulai bisnis kost kost an, membuka usaha di pasar pringgan, kantin, sekaligus mengajar vocal di sekolah musik. Pendeknya, kita harus bikin cadangan untuk menyiasati ekonomi sekaligus mampu menghasilkan karya terus menerus.
Sapna Aria Sitopu kini menjadi staf pengajar di etnomusikologi USU, khusus vocal. Ia melanjutkan studi Strata Dua (S2) berkaitan dengan upaya penyelamatan seni tradisi, nyanyian simalungun yang sudah banyak dilupakan orang seperti taur taur, tangis tangis, urdo urdo, tihtah (nyanyian anak senda gurau), mang mang (mantra), inggou turi turian (cerita rakyat dengan bernyanyi), nyanyian panen padi dan ragam jenis lainnya. Tidak hanya dikenal sebagai penyanyi etnik simalungun, ia adalah seorang pendidik dan pengajar.