sponsor

Select Menu

Favourite

Berita

Budaya

Berita Utama

Popular

Kategori Berita

Comments

Advertisement

Berita Pilihan

Newsletter

Hi There, I am

SLIDE1

Bupati Simalungun

Pematang Raya

Pematang Siantar

Pendidikan

Politik

Kaos Simalungun

VIDEO

BERBUAT DARI APA YANG KITA BISA

"Mar lereng (sepeda) ma au ambia marlajar pakon hasoman ase hu botoh mar-flut, mar-piano, sonai age mar-arkodian" (Taralamsyah)

Sembari membaca buku dan mengenang salah seorang maestro seni simalungun, Taralamsyah, aku juga melihat perjuangan seorang perempuan simalungun.

Aku akan berusaha sesuai dengan kemampuan ku, untuk terus mendukung Sapna Sitopu dalam upaya melestarikan "Inggou Simalungun". Senin lalu (24/11) ia baru saja wisuda S2 dari fak. etnomusikologi USU dengan thesis tentang Inggou turi turian simalungun, dalam keyakinan nya ia akan tetap berusaha menempuh S3. Sebagai dosen etnomusikologi, ia mencurahkan pengabdian di bidang penelitian akademis.

Bulan Mei, aku mengunjungi penyanyi lama simalungun yang masih memiliki kekuatan inggou, yaitu Lina Damanik di Sondi Raya. Ia mengalami masa keemasan sebagai artis penyanyi hingga menghasilkan 6 album, lalu berakhir tahun 1978.

Ia mendengar lagu Taralamsyah yang dibawakan generasi muda sekarang sudah jauh dari keaslian "inggou sapari" sehingga kehilangan karakter lagu. Mereka membuat kreasi terhadap lagu Taralamsyah, tapi tidak mencermati khas "inggou sapari" yang menurutnya sangat berpengaruh pada penyampaian makna. Generasi muda penyanyi dan pencipta lagu simalungun, sebaiknya mereka mau kembali menelusuri dan mempelajari inggou simalungun.

Taralamsyah mengalami masa surut, ia kehilangan ekspresi simalungun nya (vakum) pada masa revolusi 1945 - 1950, juga 20 tahun meninggalkan ekspresi simalungun nya karena harus bekerja dan pindah ke Jambi. Salah satu kenangan terbaiknya adalah Orkes Na Laingan dan banyak arsip lagu simalungun dan 20 an tor tor simalungun.

Kini siapa kah yang akan melanjutkan kekuatan "Inggou Simalungun" milik nenek moyang kita simalungun ini ? Sudahkah saat nya hilang dari kehidupan masyarakat kita ?

Dengan rendah hati, Sapna Sitopu melakukan manuver dengan mengikuti Mamamia Indosiar, kini berhasil memasuki tahap 6 BESAR. Dalam visi kami, ini adalah bagian dari menyusun kekuatan untuk mendapatkan "branding", tenaga penopang untuk mengangkat kembali "inggou simalungun".

Berbuat apa yang kita bisa,
mohon bantuan
Jumat, 28 Nov pukul 18.00 di Indosiar
Dukung dengan ketik MAMAMIA OCHA ke 7288

Terima kasih atas dukungan visi bersama



Laporan Wartawan Tribun Medan/Liston Damanik
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Peserta kontes pencarian bakat Mama Mia asal Medan, Sapna Ria Sitopu, mengaku sudah menciptakan tiga puluh lagu untuk album yang rencananya akan digarap setelah ia dan anaknya, Ocha, selesai dengan program yang disiarkan hampir tiap hari di Indosiar itu.
“Saya memang ada rencana membuat album. Sudah saya buat sekitar 30 lagu baru. Seharusnya setelah saya menyelesaikan thesis tahun ini. Tapi, ternyata ada Mama Mia. Jadi, mungkin setelah Mama Mia-lah,” katanya saat dihubungi, Selasa (7/10/2014).
Dosen Etnomusikologi USU ini mengatakan, lagu-lagu yang telah ia buat itu ingin dinyanyikannya bersama dua anaknya yang juga penyanyi atau murid-muridnya di Yopie Music Studio.
Konsepnya adalah gabungan antara musik tradisional batak dengan musik kontemporer seperti jazz. Memasukkan music jazz bukan sekadar sempalan karena Sapna sudah sering membawakan berbagai macam gaya vokal dan berhasil membuat improvisasi inggou.
Menurut Sapna, gaya vokal inggou mirip dengan gaya vokal dari sunda dan jawa yang memang sama menggunakan melodi pentatonik.
Gaya vokal ini, katanya, sudah jarang ditemui dalam karya musik pop tradisional Simalungun. Karena itu, jika akan membuat album nanti, ia harus mengemasnya agar dapat diterima pencinta musik dari kalangan muda.
Sapna yang masuk dalam kloter lima program ini berhasil melewati tahap kedua, dan Jumat nanti (10/10/2014) akan mengikuti tahap ketiga untuk mengamankan posisi dua besar. Babak final ajang ini nantinya akan diikuti oleh dua pasang kontestan perwakilan tujuh kloter.
Dukungan untuk Mama Sapna dan Ocha dapat diberikan dengan mengirimkan pesan singkat MAMAMIA OCHA ke 7288.
(ton/tribun-medan.com)


Museum yang berisi sejarah dan budaya Simalungun itu kini sangat jarang dikunjungi.

Museum Simalungun
Kepala Yayasan Museum Simalungun, Jomen Purba, meratapi kondisi museum itu kini. Museum yang berisi sejarah dan budaya Simalungun itu kini sangat jarang dikunjungi.
Menurut Jomen, bangunan itu hanya sekadar pajangan di pusat Kota Siantar. Museum, lanjutnya, tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang menawan.
"Udah seringnya itu kuusulkan supaya ada sedikit dana untuk membuat supaya itu jadi lebih menarik. Supaya orang mau berkunjung kemari. Ke Pemkab (Simalungun) udah, ke Pemko (Pematangsiantar) udah," ujarnya, Kamis (21/8).
Setiap hari, tak selalu ada pengunjung yang mendatangi Museum Simalungun. Jika ada yang datang, palingan hanya dua sampai empat pengunjung.
"Mana ada yang datang. Tengoklah sendiri kayak hari ini. Satu pun enggak ada yang datang. Sehari belum tentu ada yang datang. Kalau ada yang datang pun paling dua, tiga, empat," kata Jomen.
Masalah sepinya Museum Simalungun telah menjadi sorotan sejak lama. Menurut Jomen, pemerintah serta masyarakat Siantar dan sekitarnya seakan tak menganggap museum itu sebagai tempat yang menarik.
"Anda saja yang lantaran bukan orang sini. Kalau orang sini udah gak ada lagi yang peduli. Sekolah-sekolah aja pun enggak ada siswanya yang kemari," tambahnya.
Museum Simalungun terletak di pusat Kota Siantar, tepatnya di Jalan Sudirman, sebelah Kantor Polres Pematangsiantar.
Setiap hari, museum buka dari pagi sampai pukul 18.00 Wib. Pengunjung yang masuk dikenakan tarif sebesar Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 2.000-Rp 4.000 untuk anak-anak dan remaja.
"Retribusi itu paling untuk operasional ajanya. Kayak listrik, air," tandas Jomen.
(Sumber: Tribun Medan)

SAPNA ARIA SITOPU
Penyanyi etnik simalungun, pendidik dan pengajar vokal
Penulis : Sultan Saragih, bekerja di kajian budaya Rayantara
Bekal kemampuan menyanyi secara otodidak bersama keluarga yang hidup berkesenian sebagai parlata lata (orkes tradisional) serta pembelajar vokal di Sekolah Menengah Musik Medan, membuat ia memiliki teknik pondasi bernyanyi yang kuat. Sapna Sitopu mampu mengimbangi permainan improvisasi Jazz Bill Saragih, guru sekaligus sahabat ketika berada di Jakarta.
“Tidak semua penyanyi mampu mengikuti permainan Jazz, karena ia harus sanggup memproduksi nada nada improvisasi sesuai pergeseran irama Jazz. Penyanyi tersebut akan frustasi bila teknik vokalnya tidak memadai atau tidak bisa sampai pada putaran nada yang diberikan pemain Jazz” tegasnya ketika berbicara dengan penulis dalam sebuah wawancara pekan lalu.
Sejak kapan belajar menyanyi ?
Aku lahir 10 April 1971 di Pakaloban, keluarga kami pindah ke desa Pagar manik, Kec. Silindak – Bangun Purba, Kab. Serdang Bedagai. Ayah, Sabar Sitopu selain bertani juga pemimpin orkes musik tradisional simalungun yang selalu mendapat permintaan tampil untuk berbagai acara panggung, pesta pernikahan maupun adat kematian. Orkes musik tersebut dalam bahasa daerah dipanggil dengan parlata lata, terdiri dari pemain gitar, gonrang, drum modifikasi dan krincingan tanpa keyboard.
Aku mulai menyanyi sejak berusia 4 tahun dengan cara martakap baba (lisan) dari ibu, Lina boru Purba Pak Pak. Sejak kecil, hampir setiap hari aku selalu mendengar ibu menyanyikan lagu tradisional simalungun sambil mengasuh kami, ketika bekerja di ladang, atau memasak di dapur, perjalanan ke pasar hingga mengikuti show berbagai daerah. Amboru (saudara perempuan ayah) juga penyanyi parlata lata, cukup mendengar dua tiga kali, sebuah lagu langsung bisa kubawakan, sudah hapal melodi nya. Lalu, aku menjadi penyanyi parlata lata mulai duduk di bangku sekolah dasar hingga SMP. Lagu yang kunyanyikan pada waktu itu, taur taur simbandar, lagu Bolon, Misir Ma Ham Botou, Deideng Bittang, Deideng apuy ni par sini silou, Odak odak dan lagu rakyat simalungun lainnya yang sarat dengan inggou (cengkok khas simalungun). Terampil di atas panggung, aku meraih juara pada berbagai perlombaan tarik suara tingkat sekolah.
Setia Dermawan Purba, teman ayah, melihat bakat lalu memberi saran agar Sapna melanjutkan sekolah musik. Aku mendaftar dan melanjutkan studi di Sekolah Menengah Musik Medan Jl. Perintis Kemerdekaan, jurusan vocal. Bertemu dengan Juliana Hutagalung, guru sekolah yang menggembleng bagaimana memperdalam teknik vokal secara mendasar, belajar teknik pernapasan, cara memproduksi suara, membuat notasi balok, menyanyikan lagu seriosa, keroncong, lagu klasik barat seperti klasik jerman hingga klasik itali.
Di luar lingkungan sekolah, Sapna ikut belajar menyanyi dengan Tante Vera yang memandu program siaran anak anak di TVRI serta lomba bintang Radio RRI. Aku belajar sikap bagaimana memilki keberanian dan proses menjadi seorang entertainer yang kuat.
Keempat fase ini lah yang membentuk karakter dan kekuatanku sekarang, sejak penyanyi otodidak masa kanak kanak dengan keluarga, belajar dari Juliana Hutagalung di Sekolah Menengah Musik, Tante Vera dengan lingkungan TVRI dan RRI, hingga belajar improvisasi Jazz bersama Bill Saragih.
Tapi karena bawaan dan karakter dasar memiliki inggou (cengkok khas simalungun), lagu jazz yang kutampilkan tak luput dari improvisasi inggou sehingga menjadi berbeda dengan penyanyi jazz lain. Penyanyi etnik simalungun, itu lah ciri khas dan jati diri ku.
Pernah menjadi juara lomba ?
Pada masa itu lah, aku meraih juara dua Lomba Seriosa TVRI – RRI tingkat Sumatera Utara, juara 1 lomba Lagu Pop PRSU, juara 1 lomba lagu Karo se Sumatera Utara dan berbagai lomba lainnya. Jika dihitung, ada 94 piala yang dapat dikumpulkan sekarang. Tapi karena pola hidup ku tinggal dan berpindah kost selalu, hampir semua piala tidak terurus dengan baik. Aku mulai masuk dapur rekaman, diawali duet dengan Lamser Girsang dalam album “Horas bani Himapsi” tahun 1988. Selanjutnya banyak berdatangan pihak lain untuk membuat album bersama.
Apa pengalaman pahit selama menyanyi ?
Semasa hidup sekolah dulu, Ibu kost pernah mengusir aku karena memiliki kebiasaan menyanyi sambil teriak pagi pagi untuk latihan vokal. Ternyata tetangga tidak suka semua, mereka mengadu, aku dibilang ribut tiap jam lima pagi, teriak teriak sehingga mengganggu kenyamanan mereka tidur. Keesokan harinya, tiba tiba semua pakaian dan tas sudah keluar dari kamar. Iya, pindahlah kau dari sini, kata ibu kost. Lalu aku menangis ke gereja, mengadu, langkah baik pengelola gereja memberi tempat di sana, agar aku bisa teriak teriak menyanyi setiap pagi. Kebiasaan menyanyi kapan saja dan dimana saja sebenarnya sudah ada sejak kecil, kulakukan sambil memanjat pohon, menyanyi entah lagu apa saja. Di sawah sambil mengusir burung aku terus menyanyi, kadang dianggap orang gila. Padahal, tabiat ku tak bisa diam, terkadang juga seperti menyanyi begitu saja tidak sadar.
Apakah bisa hidup sejahtera dari penyanyi ?
Tidak, pasar dan ekonomi tidak berpihak, kalau penyanyi simalungun mau mengharapkan penghasilan dari menyanyi di atas panggung dan penjualan kaset album, takkan pernah bisa beli rumah, kendaraan, bahkan membiayai kebutuhan hidup sehari hari pun sulit.
Aku dapat menutupi kebutuhan hidup sehari hari dari bisnis, bukan dari menyanyi. Belajar dari teman yang berprofesi sebagai pengusaha hotel, akhirnya aku memulai bisnis kost kost an, membuka usaha di pasar pringgan, kantin, sekaligus mengajar vocal di sekolah musik. Pendeknya, kita harus bikin cadangan untuk menyiasati ekonomi sekaligus mampu menghasilkan karya terus menerus.
Sapna Aria Sitopu kini menjadi staf pengajar di etnomusikologi USU, khusus vocal. Ia melanjutkan studi Strata Dua (S2) berkaitan dengan upaya penyelamatan seni tradisi, nyanyian simalungun yang sudah banyak dilupakan orang seperti taur taur, tangis tangis, urdo urdo, tihtah (nyanyian anak senda gurau), mang mang (mantra), inggou turi turian (cerita rakyat dengan bernyanyi), nyanyian panen padi dan ragam jenis lainnya. Tidak hanya dikenal sebagai penyanyi etnik simalungun, ia adalah seorang pendidik dan pengajar.
Kotak Band Hibur Ribuan Pengunjung


Pesta Danau Toba (PDT) di Tanoh Habonaron Do Bona Kabupaten Simalungun tahun 2014 yang berlangsung sejak tanggak 18 s/d 20 September 2014 di Open Stage kota Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, oleh Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM secara resmi ditutup, Sabtu malam 20/09/2014.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan seperti lomba mengukir (manguhir), lomba marjalekkat, pertandingan margalah, festival vocal solo, festival tari kreasi daerah, pertandingan volley pantai, festival gonrang keyboard, lomba memancing, lomba  fotography, lomba renang dewasa, lomba renang anak-anak, lomba solu parsada-sadaan (perorangan) dan lomba solu pardua-duaan.

Selama digelarnya pelaksanaan PDT di Kabupaten Simalungun  juga di adakan eksebisi terbang layang, eksebisi sepeda gunung dan eksebisi tour Harley Davidson, eksebisi tour "X Trail", eksibisi Jet Sky, drag race sepeda air, drag rice speed boat, drag race scooter, pagelaran malam pesona budaya multi etnis/nusantara, malam pesona budaya Simalungun.
Selain itu, setiap malam untuk memeriahkan PDT, yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah juga ditampilkan artis-artis papan atas seperti Marsada Band, Naff Band, Kotak Band dan artis-artis Ibukota lainnya ditambah artis pendukung dari Kabupaten Simalungun. Semua jadwal kegiatan yang telah direncanakan berjalan dengan tertib, aman dan lancar.

Seperti Kotak Band pada malam penutupan PDT tersebut melalui vocalisnya Tantri mendapat apresiasi yang tinggi dari ribuan fansnya yang  memadati pelataran Open Stage. Semua maniak Kotak Band bernyanyi, berjoget bersama iringan musik dan lalu-lagu yang dibawakan oleh vocalis Kotak Band. Termasuk Bupati Simalungun dan keluarga serta para Farum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan para pimpinan SKPD dijajaran Pemkab Simalungun yang hadir dalam penutupan PDT, terlihat menikmati hiburan yang di tampilkan oleh Kotak Band sampai acara selesai.

Disela-sela penampilannya, Tantri meminta kepada para fansnya terutama masyarakat Kota Parapat untuk sama-sama menjaga dan melestarikan Danau Toba sebagai asset Indonesia dan Dunia. Bahkan dirinya sangat mengagumi keindahan Danau Toba. "Saya sangat kagum dengan Danau Toba karena saya selama ini hanya dapat melihat Danau Toba memelui media televisi,"ujarnya.

Sementara itu, Bupati Simalungun saat menutup PDT tersebut mengatakan bahwa Pemkab Simalungun akan tetap melaksanakan PDT setiap tahunnya, hal tersebut bertujuan untuk melestarikan kebudayaan yang telah dilaksanakan oleh para orang-orang tua terdahulu. Selain itu Bupati menyampaikan bahwa pelaksanaan PDT juga untuk meningkatkan arus kunjungan wisata di Kota Parapat. Bupati juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan untuk menyukseskan dan memeriahkan pelaksanaan PDT.

Sebelumnya panitia telah memberikan hadian dan penghargaan kepada para pemenang perlombaan. Tampak hadir dalam kesempatan itu, Danrindam I BB, Danrem 022 PT, Dandim 0207 Simalungun, Danyonif 122 TS, mewakili Kapolres Simalungun, Anggota DPP RI Parlindunagn Purba, Anggota DPRD Simalungun, para pejabat di jajaran Kabupaten Simalungun dan perwakilan dari Kabupaten Batu Bara.  
SIMALUNGUN - Pemerintah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara memberikan dana hibah untuk pengelolaan rumah adat yang ada di anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

“Dihibahkan Rp1 miliar untuk keperluan anjungan Pemkab Simalungun yang ada di TMII, dan sebagian dari dana hibah ini untuk pemugaran rumah adat,” ujar Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih, hari ini.

Dana hibah ini disampaikan Bupati saat menggelar kegiatan Malam Pesona Budaya Simalungun di TMII Jakarta pada Sabtu lalu. Bupati mengemukakan pemugaran perlu dilakukan untuk keberlangsungan rumah adat dan budaya Simalungun supaya tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

“Ini harus dijaga dan dilestarikan agar bisa dilihat langsung oleh generasi pemuda khususnya yang berada di sekitar Jabotabek,” ujar Bupati.

Bupati memberikan instruksi kepada pengurus Partuha Maujana Simalungun (PMS) DKI Jakarta untuk mengelola anggaran hibah ini.

Ketua PMS DKI Jakarta Mariaman Saragih menyampaikan pihaknya ke depan tidak hanya mengadakan pagelaran seni budaya, tetapi seminar ilmiah untuk mengenalkan dan melestarikan budaya Simalungun.

Wakil Ketua DPRD Simalungun Burhanuddin Sinaga menyampaikan apresiasi dan dukungan kepada Pemkab atas kepedulian terhadap keberlangsungan adat budaya daerah ini.

“DPRD siap mendukung program pembangunan Pemkab demi kemajuan Simalungun yang lebih baik lagi kedepan. Dan khusus untuk pelestarian budaya yang merupakan jati diri suku, memang harus dilakukan,” tandas Burhanuddin.

SUMBER : WASPADA
Editor: SASTROY BANGUN

SIMALUNGUN | DNA - Tahun 2014 ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun akan melaksanakan Pesta Danau Toba (PDT) yang dijadwalkan berlangsung selama 3 hari dimulai tanggal 18 s/d 20 September 2014.
            
Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM, dalam keterangan persnya di Pamatang Raya, Senin (15/9/2014) mengatakan, pelaksanaan PDT bukan untuk mengimbangi atau menyaingi pelaksanaan Festival Danau Toba (FDT) yang tuan rumahnya nanti adalah Kabupaten Toba Samosir.
           
“PDT yang dilaksanakan oleh Pemkab Simalungun sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan FDT,” jelas JR Saragih.
      
Sejarah PDT kata Bupati tidak boleh kita lupakan, sebab PDT ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1980 lalu.
      
“Jadi saya menghargai apa yang sudah dibuat oleh orang tua kita dulu dengan baik dan ini cukup baik,” kata Bupati yang dalam kesempatan didampingi Kadishubkominfo Mixnon Andreas Simamora SIP dan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Rizal EP Saragih AP MSi.
      
Danau Toba dikenal imbuhnya, bukan karena festivalnya tapi PDT. Maka kita akan tetap melaksanakannya. “PDT ini tetap akan kita laksanakan yang direncanakan saya buka, dengan menghadirkan masyarakat-masyarakat Simalungun khususnya dan umumnya masyarakat luar daerah Simalungun juga di pasti akan menghadirinya,” jelas Bupati.
      
Pelaksanaan PDT juga akan dilaksanakan berbagai kegiatan pertandingan olahraga tradisional, sehingga Danau Toba tidak merasa ditinggalkan. “Intinya Pemkab Simalungun tetap mendukung pelaksanaan FDT, kita juga berharap  tahun depan FDT akan melibatkan daerah-daerah lain di pinggiran Danau Toba, sehingga semangat membesarkan warisan leluhur kita itu dapat tercipta diseluruh daerah pinggiran Danau Toba secara bersamaan,”ungkap Bupati.
      
Sementara itu, rangkaian penyelenggaraan PDT Kabupaten Simalungun tanggal 18 s/d 20 September 2014; Kamis tanggal 18/09 sebagai berikut acara pembukaan, lomba mengukir (manguhir), lomba marjalekkat, pertandingan margalah, festival vocal solo, festival tari kreasi daerah, pertandingan volley pantai, eksebisi terbang layang, malam pesona budaya Simalungun/pesisir dan penampilan Marsada Band serta artis pendukung lainnya.
      
Pada hari Jum’at tanggal 19/09 pelaksanaan kegiatan adalah festival gonrang keyboard, lomba memancing, lomba  fotography, lomba renang dewasa, lomba renang anak-anak, drag race sepeda air, eksebisi tour “X Trail”, malam pesona budaya multi etnis/nusantara, penampilan Band NAFF dan artis pendukung lainnya.
      
Kegiatan PDT pada hari Sabtu tanggal 20/09 sebagai berikut; lomba parsada-sadaan (perorangan), lomba solu pardua-duaan, eksibisi Jet Sky, drag rice speed boat, drag race scooter, eksebisi sepeda gunung, eksebisi tour Harley Davidson, penyerahan hadiah, acara penutupan dan penampilan Band KOTAK serta artis pendukung lainnya.(herman maris)

SUMBER : http://www.dnaberita.com/berita-117547-pdt-bukan-untuk-saingi-fdt.html
Digelar 18-20 September di Parapat 
Parade Budaya & Solu Bolon Meriahkan PDT

SIMALUNGUN - Parade budaya dan lomba solu bolon akan mewarnai kemeriahan Pesta Danau Toba (PDT) yang akan dipusatkan di kota turis Parapat, Kabupaten Simalungun, pada 18-20 September mendatang. Dana untuk itu, Pemkab telah mengalokasikan Rp2 miliar guna menunjang pesta rakyat itu.

Digelarnya PDT di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon juga diharapkan bisa mendukung pelaksanaan Festival Danau Toba (FDT) yang merupakan program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tanggal 17-21 September.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Simalungun Mixnon Andreas Simamora melalui telepon selulernya mengatakan, tujuan pelaksanaan PDT tidak lain hanya untuk meningkatkan dan mempromosikan Danau Toba sebagai destinasi wisata nasional dan Internasional.

“Hari pelaksanaan PDT dan FDT yang bersamaan bukanlah disengaja. Juh hari sebelumnya, emkab Simalungun sudah menetapkan harinya. Kebetulan saja harinya sama,” ucapnya.

Pergelaran PDT akan dipusatkan di open stage Parapat dengan menggelar berbagai kebudayaan daerah dan perlombaan olah raga.

“Jika FDT skalanya nasional maka PDT masih fokus pengembangan kekayaan wisata dan kebudayaan yang ada Simalungun. Dananya juga hanya bersumber dari APBD Simalungun,” jelasnya.

Ditanya tentang pernyataan Wamen Parekraf Sapta Nirwandar yang menyebutkan bahwa anggaran FDT sebesar Rp7 miliar. Sebagian saja ditanggung pemerintah pusat. Selebihnya ditanggung daerah-daerah sekitar Danau Toba termasuk Simalungun.

Mixnon mengatakan, pihaknya belum ada menerima surat resmi terkait pendanaan FDT. “Sejauh ini belum ada surat resmi yang diterima pemkab, sehingga tidak bisa mengeluarkan dana. Intinya, Pemkab tetap mendukung pelaksanaan FDT ke-II yang dipusatkan Kabupaten Tobasa,” ucapnya.

Meski Tobasa dihunjuk sebagai tuan rumah Festival Danau Toba (FDT), namun pemkab tetap menggelar Pesta Danau Toba (PDT). Seperti tahun lalu, pemkab mengalokasikan dana sebesar Rp2 miliar guna menunjang PDT 2014.

“Kita merencanakan PDT 2014 akan berlangsung semarak. Dana yang kita alokasikan Rp2 miliar untuk menunjang PDT. Kami ingin menjadikan Pesta Danau Toba tahun ini lebih semarak dan lebih banyak menjaring wisatawan baik lokal maupun regional dan manca negara seperti yang terjadi beberapa tahun lalu,” kata Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Simalungun Rizal EP Saragih ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.

PDT 2014, sambung Rizal, menurut rencana akan disemarakkan dengan berbagai kegiatan. Antara lain; parade budaya, lomba solu bolon, pertunjukan kuliner khas daerah,  festival alat musik, pameran, dan lomba olahraga. (rah/des)

sumber : http://www.metrosiantar.com/parade-budaya-solu-bolon-meriahkan-pdt/