sponsor

Select Menu

Favourite

Berita

Budaya

Berita Utama

Popular

Kategori Berita

Comments

Advertisement

Berita Pilihan

Newsletter

Hi There, I am

SLIDE1

Bupati Simalungun

Pematang Raya

Pematang Siantar

Pendidikan

Politik

Kaos Simalungun

VIDEO

» » » » Sapna Sitopu, pelestari seni tradisi simalungun


Garama ParRaya 10:01 PM 0


SAPNA ARIA SITOPU
Penyanyi etnik simalungun, pendidik dan pengajar vokal
Penulis : Sultan Saragih, bekerja di kajian budaya Rayantara
Bekal kemampuan menyanyi secara otodidak bersama keluarga yang hidup berkesenian sebagai parlata lata (orkes tradisional) serta pembelajar vokal di Sekolah Menengah Musik Medan, membuat ia memiliki teknik pondasi bernyanyi yang kuat. Sapna Sitopu mampu mengimbangi permainan improvisasi Jazz Bill Saragih, guru sekaligus sahabat ketika berada di Jakarta.
“Tidak semua penyanyi mampu mengikuti permainan Jazz, karena ia harus sanggup memproduksi nada nada improvisasi sesuai pergeseran irama Jazz. Penyanyi tersebut akan frustasi bila teknik vokalnya tidak memadai atau tidak bisa sampai pada putaran nada yang diberikan pemain Jazz” tegasnya ketika berbicara dengan penulis dalam sebuah wawancara pekan lalu.
Sejak kapan belajar menyanyi ?
Aku lahir 10 April 1971 di Pakaloban, keluarga kami pindah ke desa Pagar manik, Kec. Silindak – Bangun Purba, Kab. Serdang Bedagai. Ayah, Sabar Sitopu selain bertani juga pemimpin orkes musik tradisional simalungun yang selalu mendapat permintaan tampil untuk berbagai acara panggung, pesta pernikahan maupun adat kematian. Orkes musik tersebut dalam bahasa daerah dipanggil dengan parlata lata, terdiri dari pemain gitar, gonrang, drum modifikasi dan krincingan tanpa keyboard.
Aku mulai menyanyi sejak berusia 4 tahun dengan cara martakap baba (lisan) dari ibu, Lina boru Purba Pak Pak. Sejak kecil, hampir setiap hari aku selalu mendengar ibu menyanyikan lagu tradisional simalungun sambil mengasuh kami, ketika bekerja di ladang, atau memasak di dapur, perjalanan ke pasar hingga mengikuti show berbagai daerah. Amboru (saudara perempuan ayah) juga penyanyi parlata lata, cukup mendengar dua tiga kali, sebuah lagu langsung bisa kubawakan, sudah hapal melodi nya. Lalu, aku menjadi penyanyi parlata lata mulai duduk di bangku sekolah dasar hingga SMP. Lagu yang kunyanyikan pada waktu itu, taur taur simbandar, lagu Bolon, Misir Ma Ham Botou, Deideng Bittang, Deideng apuy ni par sini silou, Odak odak dan lagu rakyat simalungun lainnya yang sarat dengan inggou (cengkok khas simalungun). Terampil di atas panggung, aku meraih juara pada berbagai perlombaan tarik suara tingkat sekolah.
Setia Dermawan Purba, teman ayah, melihat bakat lalu memberi saran agar Sapna melanjutkan sekolah musik. Aku mendaftar dan melanjutkan studi di Sekolah Menengah Musik Medan Jl. Perintis Kemerdekaan, jurusan vocal. Bertemu dengan Juliana Hutagalung, guru sekolah yang menggembleng bagaimana memperdalam teknik vokal secara mendasar, belajar teknik pernapasan, cara memproduksi suara, membuat notasi balok, menyanyikan lagu seriosa, keroncong, lagu klasik barat seperti klasik jerman hingga klasik itali.
Di luar lingkungan sekolah, Sapna ikut belajar menyanyi dengan Tante Vera yang memandu program siaran anak anak di TVRI serta lomba bintang Radio RRI. Aku belajar sikap bagaimana memilki keberanian dan proses menjadi seorang entertainer yang kuat.
Keempat fase ini lah yang membentuk karakter dan kekuatanku sekarang, sejak penyanyi otodidak masa kanak kanak dengan keluarga, belajar dari Juliana Hutagalung di Sekolah Menengah Musik, Tante Vera dengan lingkungan TVRI dan RRI, hingga belajar improvisasi Jazz bersama Bill Saragih.
Tapi karena bawaan dan karakter dasar memiliki inggou (cengkok khas simalungun), lagu jazz yang kutampilkan tak luput dari improvisasi inggou sehingga menjadi berbeda dengan penyanyi jazz lain. Penyanyi etnik simalungun, itu lah ciri khas dan jati diri ku.
Pernah menjadi juara lomba ?
Pada masa itu lah, aku meraih juara dua Lomba Seriosa TVRI – RRI tingkat Sumatera Utara, juara 1 lomba Lagu Pop PRSU, juara 1 lomba lagu Karo se Sumatera Utara dan berbagai lomba lainnya. Jika dihitung, ada 94 piala yang dapat dikumpulkan sekarang. Tapi karena pola hidup ku tinggal dan berpindah kost selalu, hampir semua piala tidak terurus dengan baik. Aku mulai masuk dapur rekaman, diawali duet dengan Lamser Girsang dalam album “Horas bani Himapsi” tahun 1988. Selanjutnya banyak berdatangan pihak lain untuk membuat album bersama.
Apa pengalaman pahit selama menyanyi ?
Semasa hidup sekolah dulu, Ibu kost pernah mengusir aku karena memiliki kebiasaan menyanyi sambil teriak pagi pagi untuk latihan vokal. Ternyata tetangga tidak suka semua, mereka mengadu, aku dibilang ribut tiap jam lima pagi, teriak teriak sehingga mengganggu kenyamanan mereka tidur. Keesokan harinya, tiba tiba semua pakaian dan tas sudah keluar dari kamar. Iya, pindahlah kau dari sini, kata ibu kost. Lalu aku menangis ke gereja, mengadu, langkah baik pengelola gereja memberi tempat di sana, agar aku bisa teriak teriak menyanyi setiap pagi. Kebiasaan menyanyi kapan saja dan dimana saja sebenarnya sudah ada sejak kecil, kulakukan sambil memanjat pohon, menyanyi entah lagu apa saja. Di sawah sambil mengusir burung aku terus menyanyi, kadang dianggap orang gila. Padahal, tabiat ku tak bisa diam, terkadang juga seperti menyanyi begitu saja tidak sadar.
Apakah bisa hidup sejahtera dari penyanyi ?
Tidak, pasar dan ekonomi tidak berpihak, kalau penyanyi simalungun mau mengharapkan penghasilan dari menyanyi di atas panggung dan penjualan kaset album, takkan pernah bisa beli rumah, kendaraan, bahkan membiayai kebutuhan hidup sehari hari pun sulit.
Aku dapat menutupi kebutuhan hidup sehari hari dari bisnis, bukan dari menyanyi. Belajar dari teman yang berprofesi sebagai pengusaha hotel, akhirnya aku memulai bisnis kost kost an, membuka usaha di pasar pringgan, kantin, sekaligus mengajar vocal di sekolah musik. Pendeknya, kita harus bikin cadangan untuk menyiasati ekonomi sekaligus mampu menghasilkan karya terus menerus.
Sapna Aria Sitopu kini menjadi staf pengajar di etnomusikologi USU, khusus vocal. Ia melanjutkan studi Strata Dua (S2) berkaitan dengan upaya penyelamatan seni tradisi, nyanyian simalungun yang sudah banyak dilupakan orang seperti taur taur, tangis tangis, urdo urdo, tihtah (nyanyian anak senda gurau), mang mang (mantra), inggou turi turian (cerita rakyat dengan bernyanyi), nyanyian panen padi dan ragam jenis lainnya. Tidak hanya dikenal sebagai penyanyi etnik simalungun, ia adalah seorang pendidik dan pengajar.

BAGI HON NASSIAM BANI HASOMAN NASSIAM DA, DIATEI TUPA

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply